Inilah Resiko Pernikahan Dini - Zaman sekarang banyak anak muda yang telah terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak semestinya. Hasilnya, banyak dari mereka yang kemudian menikah muda hanya demi mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakoninya. Hidup mereka berubah, tidak lagi sibuk nongkrong dan bersenang-senang, karena mulai sekarang ada kebutuhan keluarga baru yang mau tidak mau harus untuk ikut dipikirkan. Dari pelajar dan mahasiswa biasa, mereka harus siap untuk bisa menjadi sosok ayah atau ibu yang bekerja sekaligus untuk merawat rumah tangga.
Sebelum ini terjadi pada dirimu, mungkin kamu bisa untuk membaca tulisan pendek ini. Sekedar pengingat sederhana bahwa ini merupakan risiko yang harus diterima jika kamu salah untuk menapakkan kaki.
Kamu dan hidupmu tidak akan untuk bisa sebebas dulu. Tidak ada lagi kegiatan nongkrong atau jalan-jalan, karena banyak tanggung jawab dan kewajiban yang tertumpuk di bahu.
Waktu yang kamu punya tidak sebebas dulu. Ada buah hati yang akan menyita seluruh waktumu. Kewajiban yang diramu dengan tanggung jawab pun ikut menjejali bahumu. Ya, ada tanggung jawab lain yang secara perlahan telah menjerat kakimu dan menunggu untuk bisa dituntaskan. Waktu longgar untuk senang-senang hanya akan singgah sebentar, karena ia tahu, posisinya telah digeser dengan kewajiban barumu sebagai ayah dan ibu muda.
Hubunganmu dengan pasangan tidak akan sama seperti waktu kalian pacaran dulu. Banyak tanggung jawab yang harus dibagi berdua, hubungan kalian tidak lagi sesederhana soal cinta.
Hubungan yang kamu jalani dengan pasanganmu sekarang tidak akan lagi seperti dulu. Dulu, kalian belum memiliki beban. Asyik melempar kata sayang dan bertukar pesan yang membuat hati meremang. Sibuk untuk merias muka di depan kaca saat malam minggu tiba. Hari-hari bahagia kalian lewati bersama. Masalah yang kalian hadapi hanya seputar cemburu dan kesalahpahaman.
Sekarang, kalian benar-benar ditampar realita. Harus rela untuk saling meliatkan otot lengan demi tercukupinya hidup hingga hari depan. Keromantisan dan kata sayang menduduki peringkat nomor kesekian. Yang utama adalah bisa bekerja sama untuk hidup bersama. Menekan ego hingga titik terendah serta melapangkan dada demi untuk menerima segala perbedaan yang ada.
Masih muda dan belum cukup untuk bisa mandiri, kamu justru akan untuk merepotkan orangtua dengan kebutuhan dari si buah hati. Dan ini bukan merupakan cara untuk membuat mereka bisa untuk bangga.
Kini, bersediakah kamu untuk berhati-hati dalam melangkah supaya bisa untuk menikmati hidup yang telah diberikan oleh Tuhan hingga saat ini?






0 komentar:
Posting Komentar