Pemimpin Perusahaan Beraset 3.900 Triliun, Ngantor Naik Kereta
Posted by Berita Menarik on Rabu, 20 Mei 2015
Pemimpin Perusahaan Beraset 3.900 Triliun, Ngantor Naik Kereta - Putra pasangan sopir taksi dan guru ini menjadi sosok panutan bagi seluruh dunia. Lim Siong Guan yang bertempat tinggal di Singapura ini, dikenal juga sebagai pejabat pemerintahan yang sangat sudah berpengalaman dari era Lee Kuan Yew hingga era Goh chok Tong.
Saat ini Lim menjabat sebagai Group President perusahaan dana investasi pemerintahan GIC. Dia menjabat posisi itu sudah sejak Juli 2009 setelah sebelumnya menjabat sebagai direktur pelaksana di tempat yang sama.
GIC adalah perusahaan pengelola kekayaan negara, salah satu yang terbesar di dunia. Asetnya lebih dari USD 100 miliar di lebih dari 40 negara di seluruh dunia. Pada 2008, The Economist telah melaporkan bahwa estimasi Morgan Stanley, aset kelolaan GIC sudah mencapai USD 330 miliar atau sekitar Rp 3.916 triliun.
Meskipun dikenal sebagai memimpin perusahaan dengan aset megabesar, Lim Siong Guan dikenal sebagai sosok yang sederhana. Sehari-harinya dia bekerja dengan mengendari transportasi umum.
Lim Siong Guan sehari-harinya naik mass rapid transit (MRT) saat untuk berangkat bekerja. Dia turun di Raffles Place kemudian berjalan kaki sekitar 20 menit untuk bisa mencapai kantor GIC di Robinson Road, sekaligus sebagai olahraga. Padahal, sosok seperti dia bisa saja untuk mendapatkan fasilitas kendaraan dari kantor maupun untuk mendapatkan sopir pribadi.
Soal mobil pribadi, dia telah memiliki Volvo S60 yang kelasnya masih jauh di bawah mobil koleganya.
Dia juga dikenal tidak pernah untuk menyuruh sekretarisnya jika punya kepentingan untuk surat menyurat urusan pribadi. Dia pun siap untuk antre menunggu giliran.
Dia seringkali untuk melakukan perjalanan tahunan ke luar negeri untuk bisa meninjau markas GIC di berbagai negara sejak tahun 2007. Empat hari dilakukannya dari Singapura ke San Fransisco, New York, London kembali lagi ke Singapura. Empat hari lainnya keliling Asia dari Singapura, Mumbai, Tokyo, Seoul, Beijing, Shanghai kembali ke Singapura.
Dalam perjalanan itu, dia tidak pernah untuk memesan kamar hotel. Pria berusia 67 tahun itu tidur di pesawat dan menolak limousin perusahaan dengan memilih transportasi publik. Dia hanya membawa tas kecil. Terkadang mandi di kantor GIC yang dikunjungi. Kantor London seringkali menyediakan handuk untuknya.
Dia dikenal sebagai pribadi yang keras tetapi juga mudah mengakrabi siapapun anak buahnya. Pertanyaan penting yang sering diberikan kepada bawahannya adalah, “bagaimana saya bisa membantu kamu agar pekerjaanmu bisa lebih bagus?”
Sebelum pada posisinya sekarang, dia bekerja di pemerintahan Singapura selama 37 tahun. Dia mengaku, betah bekerja selama hampir 4 dekade karena menganggap pekerjaan sebagai kegembiraan. “Apa yang saya rasakan sangat menarik adalah berpikir tentang masa depan. Menentukan strateginya,” ujarnya.
|
|
|




0 komentar:
Posting Komentar